Dokumen

Sabtu, 11 Desember 2010

FILSAFAT ISLAM

FILSAFAT ISLAM
Oleh: Nediar Juliadi, ST
(Mahasiswa Magister Administrasi Pendidikan UNSYIAH)
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia yaitu cinta dan bijaksana, Philia artinya cinta dan sophia artinya kebijaksanaan. Jadi artinya cinta kebijaksanaan. Dalam bahasa Indonesia disebut filsafat yang di ambil dari bahasa Arab yaitu falsafah. Seorang yang mendalami bidang falsafah dalam bahasa Indonesia disebut "filsuf" atau filosof.
Secara terminologis pengertian filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan memikirkan segala sesuatunya secara mendalam dan bijaksana, serta kritis sehingga mencapai hakikat segala situasi. Jadi Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar.
Filsafat terutama Filsafat barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke 7 S.M.. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai memikirkan dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada [agama] lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.Filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir, karena di Yunani tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas. Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang terbesar tentu saja ialah Sokrates, Plato dan Aristoteles.
Filsafat Islam merupakan filsafat yang seluruh cendekianya adalah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain. Pertama, meski semula filsuf-filsuf muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Kedua, Islam adalah agama tauhid. Jika dalam filsafat lain masih 'mencari Tuhan', dalam filsafat Islam justru Tuhan 'sudah ditemukan, dalam arti bukan berarti sudah usang dan tidak dbahas lagi, namun filsuf islam lebih memusatkan perhatiannya kepada manusia dan alam, karena sebagaimana kita ketahui, pembahasan Tuhan hanya menjadi sebuah pembahasan yang tak pernah ada finalnya.
Sebagai suatu agama, Islam memiliki ajaran yang diakui lebih sempurna dan kompherhensif dibandingkan dengan agama-agama lainnya yang pernah diturunkan Tuhan sebelumnya. Sebagai agama yang paling sempurna ia dipersiapkan untuk menjadi pedoman hidup sepanjang zaman atau hingga hari akhir. Sumber untuk mengatur kehidupan dunia dan akhirat tersebut adalah al Qur’an dan al Sunnah.
Islam bukan saja sekedar agama, tetapi juga peradaban. Pemikiran filsafat ini sudah barang tentu berpengaruh oleh peradaban Islam tersebut, meskipun pemkiran itu banyak sumbernya dan berbeda-beda jenis orangnya. Corak pemikiran tersebut adalah Islam, baik tentang problem-problemnya, motif pembinaannya maupun tujuannya, karena Islam telah memadu dan menampung aneka peradaban serta pemikiran dalam satu kesatuan. Apabila hal ini ditunjang dengan pemakaian buku-buku yang berasal dari filosuf Islam seperti Al Kindi, Al farabi, Ibnu Sina, Al Ghazali, Ibnu Rusyd, ataupun filosof Islam zaman modern Mohammad Iqbal
B. Batasan Masalah
Dalam membangun filsafat banyak orang mengajukan pertanyaan yang sama , menanggapi dan meneruskan karya-karya pendahulunya sesuai dengan latar belakang budaya, bahasa, bahkan agama tempat tradisi filsafat itu dibangun. Oleh karena itu, filsafat biasa diklasifikasikan menurut daerah geografis dan latar belakang budayanya.
Dewasa ini filsafat biasa dibagi menjadi dua kategori besar menurut wilayah dan menurut latar belakang agama. Menurut wilayah dibagi, yaitu filsafat Barat, filsafat Timur dan filsafat Timur Tengah. Sementara latar belakang agama filsafat dibagi,yaitu filsafat Islam, filsafat Budha, filsafat Hindu, dan filsafat Kristen.
Dengan melihat filsafat yang berbeda-beda dan luas perkembangannya, maka disini batasan masalah hanya pada filasafat Islam.

BAB II FILSAFAT ISLAM
A. Pengertian Filsafat Islam
Filsafat islam adalah filsafat yang lahir di negeri Islam dan berada di bawah pengayoman negara Islam tanpa memandang agama dan bahasa ahli filsafat yang bersangkutan. Perumusan demikian dilakukan karena ada juga yang menyebutnya dengan filsafat Arab yang mengandung konotasi bahwa filsafat Islam lahir dan dikembangkan di dunia Arab. Para filosof Islam berpendapat bahwa filsafat Islam bertujuan untuk mempertemukan dan memadukan antara akal pikiran manusia dengan wahyu Tuhan. Mereka mengatakan bahwa tujuan filsafat filsafat sama atau tidak bertentangan dengan tujuan agama yaitu sama-sama bertujuan untuk mewujudkan kebahagiaan hidup manusia melalui kepercayaan yang benar dan perbuatan yang baik.
Berkembangnya kebudayaan Helenisme, yaitu kebudayaan campuran antara kebudayaan Yunani dengan kebudayaan lain di Asia termasuk ke Afrika Utara, sebagai akibat ekspansi militer raja Macedonia Iskandar Zulkarnaen (356-362 SM) telah mendorong tumbuhnya berbagai pusat studi ilmu dan filsafat Yunani seperti di Iskandariyah (Mesir), Di Harran (Syiria) dan di Bagdad. Sejak abad ke 3 SM, Raja Ptolemaeus dari Mesir telah membangun Universitas Iskandariyah sebagai pusat studi berbagai macam ilmu pengetahuan alam. Dengan bantauan para cendekiawan yang di usir dari Athena Yunani, tradisi ilmiah di Universitas itu berkembang dengan pesat dan menjadi sangat termashur pada masa itu sehingga telah menarik para mahasiswa dari berbagai negeri umtuk belajar di situ.
Pusat studi ilmu pengetahuan snagat berkembang di Bagdad yang telah memungkinkan lahirnya para pemikir Islam seperti Al Kindi dan Al Farabi. Dengan adanya adanya usaha menterjemahkan dan mengulas karya-karya filosof Yunani, seperti karya-karya Aristoteles, maka umat Islam telah mampu dalam waktu yang relative singkat mewarisi arisan intelektual dari tiga jenis kebudayaannyang sangat maju pada waktu itu, Yaitu Yunani, Persia dan India. Mereka telah memanfaatkan warisan ilmiah tersebut untuk membangun suatu kebudayaan ilmu yang lebih maju, yaitu suatu kebudayaan intelektual yang lahir sebagai hasil usaha umat Islam memadu misi agama dengan warisan pusaka lama menjadi satu kesatuan sinkritis yang disebut filsafat Islam.
Diantara para filosof Islam masa lampau yang sangat terkenal yang akan dikemukakan disini, yaitu Al Kindi (801-873), Al Farabi (890-950), Ibnu Sina (980-1037), Al Ghazali (1058-1111) serta seorang filosof Islam zaman modern asal Pakistan, yaitu Mohammad Iqbal (1873-1938).
B. Al Kindi (801-873)
Al Kindi dipandang sebagai filosof Islam pertama dalam dunia Islam dan satu-satunya yang berasal dari keturunan Arab sehingga di sebut filosof Arab. Dalam zaman al KIndi diperdebatkan hubungan agama dengan filsafat. Banyak ahli agama yang menolak dan memusuhi filsafat karena diantara hasil pemikiran filsafat ada yang bertentangan dengan ajaran Al Quran. Al Kindi dengzn gigih membela ilmu filsafat. Baginya antrara agama dan filsafat tidak perlu dipertentangkan karena keduanya membawa kebenaran yang sama dan meyakinkan. Dikatakan bahwa dalam filsafat terkandung ilmu ketuhanan, ilmu keesaan dan ilmu-ilmu lain yang bermanfaat kepada manusia. Diantara ilmu-ilmu itu yang paling tinggi adalah ilmu ketuhanan yang disebut sebagai filsafat pertama. Orang yang menolak ilmu filsafat ini berarti mengingkari kebenaran.
Pandangan mengenai metafisika mencakup masalah-maslah tentang ketuhanan, alam dan manusia. Dalam hubungan dengan ketuhanan Al Kindi mengemukakan dalil-dalil tentang adanya Allah. Dalam hubungan dengan filsafat alam (kosmologi), Al Kindi menjelaskan bahwa alam ini terdiri atas dua bagian, yaitu alam yang terletak di bawah falak bulan and alam yang merentang tinggi sejak dari falak bulan sampai ke ujung alam. Sifat dari alam yang disebut pertama ialah berubah (tumbuh dan musnah), sedangkan alam kedua bersifat abadi (tidak tumbuh dan tidak musnah). Dengan kata lain hakekat alam semesta ini disamping menetap juga berubah.
C. Al Farabi (890-950)
Al Farabi lahir disebuah kota kecil di Turki dan lama tinggal di Bagdad dan Damaskus dimana pemikiran filsafatnya dikembangkan. Dia menguasai hamper semua ilmu pengetahuan yang berkembang pada masanya sehingga dia mampu mengklasifikasikan ilmu dengan segala cabang-cabang seperti ditulis dalam bukunya Ihsha’u al’Ulum yang mirip sebuah ensiklopedi. Dia terkenal sebagai komentator karya-karya filosof Yuanani terutama karya Plato dan Aristoteles, dimana kemudian di abad pertengahan setelah diterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahas ibrani dan bahasa Latin.
Dalam hubungan dengan metafisika, yaitu tentang wujud Tuhan, Al Farabi mengatakan bahwa Tuhan adalah wujud yang paling sempurna, esa dalam kesempurnaa Nya serta abadi dalam kesatuan zat dan sifatnya. Dalam hubungan dengan kosmologi mengaitkan masalah penciptaan alam semesta itu dengan akidah tauhid yang di tafsirkan dalam wujud kesatuan sifat dan zat Tuhan. Pemikiran filosofis lainnya mengenai kenabian, akhlak dan plitik atau Negara. Al Farabi merupak filosof Islam pertama yang membahas soal kenabian yang menghasilkan teori keterpaduan antara agama dan filsafat.
Mengenai akhlak, Al Farabi mengatakan bahwa ada empat keutamaan yang dapat membawa kebahagiaan kepada seseorang atau suatu bangsa, yaitu keutamaan teoritis, keutamaan pemikiran, keutamaan akhlak dan keutamaan amal, dengan cara memiliki sifat-sifat utama itu ialah dengan berupaya mengawasi diri, mengenal kekurangan dalam diri dan berusaha memperbaikinya. Pandangannya tentang akhlak berkaitan dengan konsepsinya tentang politik. Menurutnya politik adalah sarana untuk memperoleh tujuan akhir bagi manusia, yaitu kehidupan bahagia yang memiliki sifat-sifat keutamaan.
D. Ibnu Sina (980-1037)
Ibnu Sina lahir di Bukhara. Dia mempelajari berbagai ilmu pengetahuan seperti astronomi, matematika, fisika, kedokteran, filsafat dan ilmu-ilmu agama Islam. Dalam umur sepuluh tahun sudah hafal Al Quran seluruhnya dan dalam usia enam belas tahun dia sudah dikenal sebagai seorang yang ahli mengobati berbagai macam penyakit. Dia menulis lebih seratus buku tebal-tebal terutama mengenai kedokteran dan filsafat. Menurut Ibnu Sina bahwa ilmu ketuhanan ialah ilmu yang membahas wujud, zat dan sifat-sifat Tuhan.
Pandangan Ibnu Sina mengenai kosmologi dan mengenai manusia (badan dan Jiwa) sejalan dengan pandangan-pandangan Al Farabi. Dalil-dalil yang dikemukakannya mengenai hakekat manusia khususnya mengenai jiwa yang berdiri sendiri dan tetap kekal setelah terlepas dari badan, ini telah mempengaruhi banyak filosof Islam dan filosof Barat setelahnya seperti Aquina dan Descartes. Ibnu Sina juga membahas masalah akhlak dan politik dengan lebih terperinci lagi dari yang telah dibahas Al Farabi sebelumnya. Selain sebagai seorang filosof Ibnu Sina sangat terkenal dan dikagumi karena ilmu dan keahliannya dalam bidang kedokteran. Banyak literature mengenai ilmu kedokteran modern merujuk kepada pandangan Ibnu Sina yang dikenal sebagai Avecena.
E. Al Ghazali (1058-1111)
Al Ghazali lahir di Khurazan, Iran tergolong ulama dan filosof Islam yang terbesar dan sangat produktif. Al Ghazali membagi jiwa atas jiwa nabatiyah, jiwa haiwaniah dan jiwa insaniah. Jiwa manusia (insaniah) memiliki dua daya, yaitu daya amali dan daya teori. Daya amali adalah penggerak bagi badan untuk melakukan berbagai kegiatan, sedangkan daya teori adalah daya akal untuk mengetahui ilmu.
Pandangan filosofis Al Ghazali yang sangat terkenal tentang akhlak. Ilmu akhlak ialah ilmu tentang tingkah laku manusia, yaitu tentang yang seharusnya dilakukan agar tingkah laku sesuai dengan ajaran agama Islam. Akhlak manusia menurutnya terdiri atas tiga dimensi, yaitu dimensi diri (manusia dan Tuhannya), dimensi sosial (manusia dan Negara) dan dimensi metafisis (manusia dan akidah atau pegangan dasar hidup).
Jiwa manusia akan menuju kepada kesempurnaan melalui pendidikan terutama pendidikan akhlak. Penyakit hati atau rohani seperti malas dan bodoh dapat di obati dengan belajar, penyakit kikir dapat di obati dengan kedermawanan dan penyakit angkuh dapat di obati dengan merendahkan diri.
F. Muhammad Iqbal (1873-1938)
Iqbal lahir di Sialkot, daerah Punjab India pada tahun 1873 dari keluarga yang sangat religious. Iqbal filosof penyair Pakistan yang sangat terkenal. Sejak kecil Iqbal telah diserahkan oleh orang tuannya kepada guru-guru agama yang terkenal diantaranya Sayed Mir Hasan yang yang turut menggali bakat puisi pada diri Iqbal. Pada tahun 1895 pindah ke Lahore untuk memasuki perguruan tinggi, kemudian Iqbal melanjutkan pendidikannya ke Eropa belajar filsafat di Cambridge dan memperoleh gelar doctor dalam ilmu filsafat di Universitas Munich.
Menurut Iqbal manusia harus bangun untuk mengalahkan benda dan menaklukkan lingkungan tempat tinggalnya untuk membawanya kian dekat kepada Tuhan dan memperoleh kemerdekaan sambil terus mencipta. Kemerdekaan harus usaha mencapainya dan untuk itu Iqbal memberi tekanan yang besar pada nilai kerja dan perjuangan. Manusia harus berjuang tanpa mengenal mundur untuk mencapai apa yang di anggapnya baik dan adil.
Menurut Iqbal manusia harus belajar menjadi tuan bagi nasibnya sendiri. Filsafat Iqbal ialah filsafat yang meletakkan semua kepercayaan pada manusia yang memiliki kemungkinan tak terbatas, kemampuan mengubah dunia dan diri sendiri, sebab manusia pada hakekatnya adalah pencipta.

BAB III PENUTUP
A. Filsafat sebagai ilmu
Filsafat sebagai ilmu yang mengungkap tentang wujud-wujud melalui sebab-sebab yang jauh, yakni pengetahuan yang yakin yang sampai kepada munculnya suatu sebab. Ilmu terhadap wujud-wujud itu adalah bersifat keseluruhan, bukan terperinci, karena pengetahuan secara terperinci menjadi lapangan ilmu-ilmu khusus. Filsafat mencakup seluruh benda dan semua yang hidup yakni pengetahuan terhadap sebab-sebab yang jauh yang tidak perlu lagi dicari sesudahnya.
Filsafat berusaha untuk menafsirkan hidup itu sendiri yang menjadi sebab pokok bagi partikel-partikel itu beserta fungsi-fungsinya. Cakupan filsafat Islam tidak jauh berbeda dari objek filsafat. Hanya dalam proses pencarian itu Filsafat Islam telah diwarnai oleh nilai-nilai yang Islami. Kebebasan pola pikirannya pun digantungkan nilai etis yakni sebuah ketergantungan yang didasarkan pada kebenaran ajaran ialah Islam.
Keunggulan khusus bagi filsafat Islam dalam masalah pembagian cabang-cabangnya adalah mencakup ilmu kedokteran, biologi, kimia, musik ataupun falak yang semuanya menjadi cabang filsafat Islam. Sehingga hal ini menjadi nilai lebih bagi filsafat Islam. Dengan demikian filsafat Islam secara khusus memisahkan diri sebagai ilmu yang mandiri. Walaupun hasil juga ditemukan keidentikan dengan Pemandangan orang Yunani (Aristoteles) dalam masalah teori tentang pembagian filsafat oleh filosuf-filosuf Islam.
Para filsuf Islam pada umumnya hidup dalam lingkungan dan suasana yang berbeda dari apa yang dialami oleh filsuf-filsuf lain. Sehingga pengaruh lingkungan terhadap jalan pikiran mereka tidak bisa dilupakan. Pada akhirnya, tidaklah dapat dipungkiri bahwa dunia Islam berhasil membentuk filsafat yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama dan keadaan masyarakat Islam itu sendiri.
Filsafat memasuki lapangan-lapangan ilmu ke-Islaman dan mempengaruhi pembatas-pembatasnya. Penyelidikan terhadap keilmuan meliputi kegiatan filsafat dalam dunia Islam. Yang menjadi perluasan ilmu dengan tidak membatasi diri dari hasil-hasil karya filosuf Islam saja, tetapi dengan memperluas pembahasannya.
Pemikiran Islam mempunyai ciri khas tersendiri dibanding dengan filsafat Aristoteles, seperti halnya pemikiran Islam pada ilmu kalam dan tasawuf. Demikian pula pada pokok-pokok hukum Islam dan Ushul Fiqh juga terdapat beberapa uraian yang logis dan sistematis dan mengandung segi-segi kefilsafatan.
B. Kesimpulan
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan memikirkan segala sesuatunya secara mendalam dan bijaksana, serta kritis sehingga mencapai hakikat segala situasi fenomena kehidupan dan dijabarkan dalam konsep mendasar.
Menurut wilayah filsafat dibagi, yaitu filsafat Barat, filsafat Timur dan filsafat Timur Tengah. Sementara latar belakang agama filsafat dibagi,yaitu filsafat Islam, filsafat Budha, filsafat Hindu, dan filsafat Kristen.
Para filsuf Islam pada umumnya hidup dalam lingkungan dan suasana yang berbeda dari apa yang dialami oleh filsuf-filsuf lain. Sehingga pengaruh lingkungan terhadap jalan pikiran mereka tidak bisa dilupakan. Pada akhirnya, tidaklah dapat dipungkiri bahwa dunia Islam berhasil membentuk filsafat yang sesuai dengan prinsip-prinsip agama dan keadaan masyarakat Islam itu sendiri.

Referensi:
Prof.Dr.Darwis A.Soelaiman,Ma, Filsafat Perspektif Barat,Islam dan Pancasila, Banda Aceh: Cv.Guruminda, 2007.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar